Masyarakat Mesir mempunyai kebiasan tahunan, mereka memburu buka puasa setiap bulan Ramadhan. Banyak tempat menyiapkan hidangan buka puasa. Mereka berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut. Disaat yang sama, Aljazeera menginformasikan dalam laman resminya bahwa kondisi perekonomian Mesir semakin terpuruk, hal ini ditandai dengan nilai Pound Mesir semakin turun. Meskipun mereka menghadapi krisis ekonomi, tapi tidak membuat tradisi ini berubah
Masyarakat Mesir menamakan tradisi tahunan tersebut dengan sebutan this party (الديش بارتي). Tradisi dengan cara ngabuburit berburu buka puasa gratis dapat ditemukan ditempat umum dan tempat bersejarah di Mesir, salah satunya: Fustat, masjid al-Azhar, masjid Husein, jalan al-Mu’izzu li dinillah al-Fathimi dan Khonkholili. Selain tempat bersejarah, target ngebuburit juga terlihat di tepi sungai Nil. Selain dua tempat yang bersejarah ini, pemandangan ngabuburit masyarakat Mesir bisa dilihat di lestoran yang sesuai dengan isi kantong kelas menengah.
Yasir el-Degwi, seorang pemilik transportasi ditepi Nil mengungkap harga satu jam perahu dipatok 400 Pound Mesir atau setara dengan 8.5 USD. Perlu diketahui, harga tersebut diluar hidangan berbuka puasa. Layanan diperoleh selama durasi satu jam yaitu kesenian tradisi Mesir. Yasir juga menambahkan muatan perahu yang disediakan untuk 3 keluarga atau sejumlah 15 orang saja. Menurutnya, pilihan ngabuburit dan buka puasa diluar jauh lebih memikat dari pada menunggu adzan magrib di rumah.
Kepala juru bicara pusat studi ekonomi dan masyarakat Mesir menyatakan bahwa tradisi keagamaan ini tidak memandang kondisi krisis ekonomi yang terjadi di negeri tanah seribu nabi itu. Alasannya, mereka lebih peduli menjaga tradisi keagamaan di bulan Ramadhan dibanding dengan keadaan ekonomi Negara kian terpuruk. Fenomena tahunan ini tidak hanya terlihat di Kairo sebagai ibu kota negara Mesir, masyarakat tetap melestarikan tradisi ini diseluruh penjuru desa. Padahal, lonjakan harga bahan pokok dari bulan Januari sampai bulan Maret cukup signifikan. Terhitung di bulan Januari-Maret harga sembako naik dari 31.2% menjadi 36%.
Samiyah Khidir Sholeh, guru besar ilmu sosiologi dari Universitas Ain Shams, mengamati bahwa masyarakat Mesir lebih memilih kumpul bersama sekalipun mereka terjerat krisis ekonomi. Bahkan, tambahnya, masyarakat Mesir akan selalu mencari cara sekedar untuk menjaga tradisi tahunan ini.



